Preview Premier League 2014/2015: Kasta Teratas Inggris Kian Panas

Liga Primer Inggris demam isu depan segera bergulir mulai  Preview Premier League 2014/2015: Kasta Teratas Inggris Kian Panas

Liga Primer Inggris demam isu depan segera bergulir mulai 16 Agustus 2014 tentu pecinta sepakbola tidak sabar menanti sepak terjang tim favoritnya. BPL demam isu kemudian memunculkan City sebagai juara sehabis melalui pertarungan ketat dengan Liverpool hingga selesai musim.


Sejak tahun 2010, belum pernah ada lagi juara Premier League yang berhasil mempertahankan gelarnya. Tiap demam isu berjalan, selalu ada kemungkinan persaingan kasta teratas sepakbola Inggris itu berlangsung makin ketat.

Sementara ada argumen-argumen bahwa Premier League bukanlah liga terbaik di Eropa, mengingat klub-klub Jerman atau Spanyol belakangan lebih menguasai kompetisi antarklub Eropa, ada pendapat lain juga yang menyebut bahwa Premier League ialah salah satu liga paling kompetitif.

Simak catatan berikut: Setelah Manchester United mempertahankan gelar juara pada tahun 2009, belum ada lagi klub yang bisa mempertahankan gelar juara. Berturut-turut semenjak 2010, Premier League memunculkan Chelsea, United, City, kemudian United lagi, dan terakhir City lagi sebagai juara.

Dengan catatan demikian, menarik untuk disimak apakah City bisa mempertahankan gelar juara mereka pada demam isu 2014/2015 ini.

Pertanda bahwa Premier League tidak akan berjalan gampang untuk tim besutan Manuel Pellegrini itu sudah terlihat pada tabrak Community Shield, Minggu (11/8) kemarin. Menghadapi Arsenal, City takluk 0-3.

Kendatipun Community Shield tidak berarti apa-apa, Pellegrini setidaknya bisa mendapat citra bahwa tim-tim rival juga telah meningkatkan kekuatan skuat. Itu gres Arsenal, belum Liverpool ataupun Chelsea. Belum pula United, yang kini sedang dipermak gaya mainnya oleh manajer anyar, Louis van Gaal.

Menarik memang mengamati persaingan klub-klub top Premier League dalam beberapa demam isu terakhir. Salah satu catatan yang bisa diambil adalah, tabrak antara tim-tim besar Premier League belakangan acapkali menghasilkan bentrokan menarik.

 Ambil pola bagaimana United menundukkan Arsenal 8-2, namun pada demam isu yang sama mereka justru kalah 1-6 oleh City. Masih di demam isu 2011/2012, Arsenal yang tersendat-sendat di awal bisa menundukkan Chelsea 5-3 di Stamford Bridge.

Musim kemarin, ada skor-skor mencolok yang, sayangnya buat fans Arsenal, melibatkan tim kesayangan mereka itu; City 6-3 Arsenal, Liverpool 5-1 Arsenal, Chelsea 6-0 Arsenal. Dan menariknya lagi, kendatipun United tampil jelek demam isu lalu, tak satu kali pun Arsenal bisa menundukkan mereka.

Namun, patut diingat juga, kemenangan Arsenal di final Piala FA telah menumbuhkan kepercayaan diri mereka. Setelah sembilan tahun puasa gelar, The Gunners sukses meraih dua trofi dalam kurun waktu tiga bulan --dengan Community Shield sebagai yang paling anyar.

Kepercayaan diri Arsenal juga terlihat dari bagaimana komentar Arsene Wenger dalam menanggapi gosip transfer pemain. Dengan mulai lunasnya utang untuk membangun stadion, Arsenal kini bisa membeli pemain-pemain bintang ibarat Mesut Oezil pada demam isu kemarin dan Alexis Sanchez pada demam isu ini.

Arsenal juga bisa menolak pinangan United untuk Thomas Vermaelen dan menentukan untuk melepasnya ke Barcelona. Langkah ini bertolak belakang dengan langkah transfer mereka dikala menjual sejumlah pemain utama ke City dan Robin van Persie ke United. Meski kehilangan Bacary Sagna yang menolak untuk memperpanjang kontrak, Wenger kini berani menyatakan bahwa tidak akan ada lagi eksodus pemain bintang.

Selalu Ada Kans untuk Sebuah Kejutan
Di luar tim-tim ibarat City, United, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool, selalu ada kans untuk tim-tim kejutan. Ingatlah bagaimana Everton demam isu kemarin melejit bersama Roberto Martinez. Ingat pula bagaimana Southampton jadi kuda hitam dikala masih ditangani oleh Maurico Pochettino.

Kini Martinez memasuki demam isu keduanya bersama Everton dan menarik untuk disimak bagaimana hasilnya. Pochettino kini sudah pindah ke Tottenham Hotspur yang masih saja ingin tau untuk menyeruak masuk ke kawasan elite.

Relatif meratanya kekuatan tim-tim papan tengah juga menciptakan kemungkinan klub papan atas tersandung dikala menghadapi mereka makin besar. Ambil pola bagaimana perjalanan Chelsea demam isu kemarin.

The Blues menelan 6 kekalahan dan 7 hasil imbang sepanjang musim, yang lebih banyak didominasi mereka sanggup dikala berhadapan dengan tim-tim papan tengah. Tim besutan Jose Mourinho itu pernah kalah 0-2 dari Newcastle United, kalah 2-3 dari Stoke City, kalah 0-1 dari Aston Villa, kalah 0-1 dari Crystal Palace, kalah 1-2 dari Sunderland ataupun ditahan imbang 0-0 oleh West Ham United.

Deretan hasil jelek dikala berhadapan dengan tim-tim papan tengah itu menciptakan kans juara Chelsea terkikis perlahan-lahan. Kemenangan atas tim-tim papan atas ibarat Arsenal ataupun Liverpool jadi tidak berarti.

Buat tim papan atas, justru laga-laga menghadapi tim-tim papan tengah atau bawahlah yang paling penting. Terkadang, tidak persoalan dikala takluk menghadapi sesama tim papan atas --walaupun gengsi niscaya jatuh--, selama mereka bisa meraup poin maksimal meghadapi tim-tim papan atas dan tengah. Ingat, liga bukanlah lomba lari sprint, melainkan lari ketahanan. Mereka yang mengumpulkan poin terbanyaklah yang jadi juara.

Hanya saja, kini tim-tim papan tengah setidaknya sudah bisa menarik minat pemain-pemain manis untuk bermain bagi tim mereka. Imbasnya, mereka tidak bisa begitu saja diinjak-injak oleh para raksasa.

Meratanya pembagian hasil dari hak siar televisi disinyalir jadi salah satu penyebab tumbuhnya kekuatan dari tim-tim papan tengah. Dalam catatan yang dilansir oleh Premier League sendiri, pada demam isu 2013/2014, ke-20 klub di Premier League mendapat jatah rata dari hak siar, yakni sebesar 55 juta poundsterling (hasil dari equal share yang diberikan Premier League + overseas tv rights).

Mereka kemudian mendapat pemanis penghasilan lagi menurut posisi di selesai musim. Sebagai contoh, City yang finis di urutan tertas mendapat pemanis 24 juta pounds, sementara Cardiff City yang finis di posisi buncit mendapat 1,2 juta pounds. Stoke City yang finis di urutan 10 mendapat 13,2 juta pounds dan Crystal Palace yang finis di urutan ke-11 mendapat 12 juta pounds.

Itu masih belum termasuk fee yang dibayarkan untuk tiap tabrak yang ditayangkan secara live. Tentu, untuk yang satu ini, pemasukan ke-20 klub Premier League berbeda lagi. Contoh, Everton mendapat 12 juta pounds dari 16 tabrak yang ditayangkan secara live, sedangkan Fulham mendapat 7,5 juta pounds dari 7 tabrak yang ditayangkan secara live.

Untuk urutan pembagian penghasilan dari hak siar semacam ini, Premier League memang disebut lebih transparan dan lebih adil ketimbang La Liga. Oleh karenanya, jangan heran jikalau tim kecil ibarat Cardiff bisa mendapat total penghasilan hingga 63,7 juta pounds dalam semusim.

Imbasnya, ibarat yang sudah dikatakan di atas, kans untuk melihat tim besar tersandung di tengah-tengah makin besar.

Menanti Aksi Trio Tim Promosi Premier League Musim Ini
Leicester City, Burnley, dan Queens Park Rangers akan meramaikan Premier League demam isu ini sehabis mendapat promosi. Bagaimana peran ketiganya?

Ketiga tim tersebut menggantikan Cardiff City, Fulham, dan Norwich City, yang terdegradasi selesai demam isu lalu, untuk tampil bersama 17 klub lain di Premier League.

Leicester menjadi tim pertama yang meraih kesempatan tampil di Premier League demam isu 2014-15 pada 5 April--The Foxes juga dimahkotai juara Football League Championship pada 22 April.

Setelah 10 tahun absen, demam isu ini Leicester pun akan tampil lagi di kasta teratas persepakbolaan Inggris. Namun, start berat eksklusif menanti dengan menghadapi Everton (kandang), Chelsea (tandang), Arsenal (kandang), dan Manchester United (kandang), di dalam empat dari lima pertandingannya.

Jatah promosi berikutnya dipastikan oleh Burnley pada 21 April, sehabis memastikan finis di posisi dua klasemen selesai Championship.

Kali terakhir tampil di Premier League, demam isu 2009–10 yang mana penampilan pertama The Clarets di kasta teratas dalam kurun waktu 33 tahun, mereka cuma bertahan semusim saja. Hal itulah yang kini akan berusaha dihindari Burnley.

Queens Park Ranger menjadi klub yang memastikan satu tiket terakhir promosi pada tanggal 24 Mei sehabis menang 1-0 atas Derby County di final Football League Championship.

Promosi tersebut menciptakan QPR cuma bertahan satu demam isu di kasta kedua persepakbolaan Inggris mengingat gres demam isu kemudian terdegradasi dari Premier League di selesai demam isu 2012-13.

Bergabungnya Rio Ferdinand dan Steven Caulker, plus Mauricio Isla yang dipinjam dari Juventus, kolam menegaskan tekad QPR untuk bisa terus bertahan di Premier League demam isu ini.

Ketiga tim tersebut kini akan berusaha menghindari nasib Bolton, Barnsley, Crystal Palace yang pada demam isu 1997-98 menjadi tiga serangkai tim promosi yang eksklusif terdegradasi lagi. Sebaliknya Leicester City, Burnley, dan QPR bisa mengarahkan sasaran ke dua tim yang promosi ke Premier League dan sejauh ini masih bertahan di Premier League, yakni Stoke (sejak 2008) dan Swansea (sejak 2011). Atau malah menyamai rekor Newcastle (1993–94) dan Nottingham Forest (1994–95) yang menjadi tim promosi dengan finis tertinggi: posisi tiga, ibarat dicatat Wikipedia.
 

Ads

bandarq